Kota Semarang

Ibu Kota Jawa Tengah ini menyimpan segudang potensi. Mulai budaya, sejarah, hingga ekonomi. Karena itu, kota berpenduduk sekitar 1,6 juta jiwa ini bisa terus menggeliat bersamaan dengan dinamika warganya. 
 
Kota Semarang yang memilikiu luas 37.360,94 hektare dan terbagi dalam 16 kecamatan tersebut memiliki topografi yang unik, yakni kawasan atas dan bawah. Area atas hingga sekarang masih memiliki udara yang lebih sejuk, terutama di malam hari, ketimbang kawasan bawah yang berdekatan dengan pantai. 
 
Semenjak kepemimpinan Soemarmo HS sebagai Wali Kota Semarang yang diteruskan Plt Wali Kota Hendrar Prihadi, wajah kota ini mulai berubah. Pusat keramaian Simpanglima yang dulu kumuh dan semrawut, diubah menjadi ruang terbuka yang hijau dan sehat. Para pedagang kaki lima juga ditata menjadi lebih nyaman dan indah dipandang. PKL direlokasi di pinggiran Simpanglima dengan dibuatkan tenda dan kursi-kursi. Suasanya mirip kafe terbuka di Eropa, meski masakan dan minumannya khas Indonesia, termasuk pecel.
 
Trotoar di Jalan Pahlawan yang dulu disesaki PKL juga disulap menjadi ruang terbuka yang nyaman. Hampir setiap malam trotoar di pinggir Jalan Pahlawan ini disesaki ribuan warga yang ingin sekadar bersantai atau olahraga. Ada yang bersepeda di atas trotoar, ada yang bermain skateboard, sepatu roda, ada pula yang sekadar nongkrong bersama teman dan kendaraan bermotornya.
 
Sungai-sungai yang menjadi kanal penyaluran air di musim hujan juga dikeruk. Kelak, setelah dikeruk, sungai itu bisa menjadi wahana untuk rekreasi dan olahraga air.
 
Pendek kata, wajah Kota Semarang kini jauh lebih cantik dibanding beberapa tahun sebelumnya. Jargon Semarang Setara sepertinya bukan hanya berhenti pada slogan, melainkan sudah menampakkan buktinya. 
 
Sumber: