Mentan RI : Stop Impor Kentang !! Obsesi kita Ekspor

Rab, 28/12/2016 - 09:47 -- humasjtg1

BANJARNEGARA – "Obsesi kita ekpor, tidak lagi import, dan kita yakin mampu melakukannya. Stop import kentang, kembangkan ekspor. Pada skala kecil kegiatan ini sudah dikerjakan petani Batur yang sudah melakukan ekspor kentang ke Singapura. Bahkan sekarang ini tengah diupayakan ke negara tetangga lainnya. Itu membuktikan, kalau kita bersungguh-sungguh kita bisa," demikian disampaikan Menteri Pertanian Ir. Andi Amran Sulaiman, MP, saat dialog dengan ratusan petani kentang Dieng di Batur, selasa (27/12).

“Dulu kita import beras 1 juta ton dan cadangan. Setelah 32 tahun import, tahun ini kebutuhan beras tidak lagi import. Stock beras yang dimiliki 1,8 juta ton. Ini mencukupi kebutuhan 6 bulan ke depan. Dan 2 bulan lagi panen raya. Kebutuhan kita berlimpah. Ini membuktikan kalau kita bekerja keras, kita bisa. Syaratnya kerja keras,” tandas Andi Amran Sulaiman.

Kondisi sekarang memang kita masih Import kentang 29 ton. Namun kondisi ini, katanya, akan terus ditekan. Produksi akan terus digenjot. Strateginya adalah pengadaan benih unggul, untuk hemat biaya penerapan alat mesin pertanian, pembuatan embung untuk memastikan ketersediaan air bagi pertanian, dan kendalikan import.

“Import sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Kalau petani bisa produksi dan memenuhi kebutuhan dalam negeri, Import kita tutup. Tidak ada kata lain, karena itu cara mensejahterakan petani,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri secara simbolis menyerahkan bantuan alsintan berupa handtraktor, pembenihan seluas 10 hektare untuk petani kentang banjarnegara dan 5 ha untuk petani Dieng, bantuan kambing untuk petani, dan alat-alat untuk pengolahan hasil tani yang diberikan secara simbolis pada sejumlah petani.

Direktur Jendral Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan mengatakan Import kentang 26 ribu ton. Namun itu kentang industi bukan kentang sayur. Intinya tidak ada kentang sayur yang diimpor.

“Kentang granola tidak ada impor. Kalau ada ketemu di Pasar Induk itu adalah selundupan. Untuk memastikan tidak ada lagi kasus semacam itu, kemarin dengan 8 kementerian lain seperti bea cukai, kepolisian, dan kementrian pertanian, kementerian perdagangan sepakat melakukan pengawasan bersama,” katanya.

Import kentang industry ini pun akan dikendalikan dengan target dalam tiga tahun tidak lagi import. Antisipasi hal ini, Kementrian telah bertemu dengan pemilik modal yang berjanji akan melakukan invenstasi untuk meningkatkan produksi kentang dalam negeri. Targetnya kebutuhan kentang dalam tiga tahun dapat dipenuhi. Prediksinya dalam masa tiga tahun tersebut import kentang akan distop.

“Stop impor ini serius. Untuk memenuhi target tersebut, setiap tahun dibutuhkan 25 ha untuk pembibitan dan 1000 ha untuk penanaman. Kalau itu semua bisa dipenuhi dalam tiga tahun masalah akan terselesaikan” katanya.
Assisten Sekda Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat, Wawang A. Wakhyudi, SH., mengatakan luas wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah 106.970,997 ha terdiri dari 20 Kecamatan.

Dari 20 Kecamatan tersebut, empat kecamatan kegiatan pertaniannya didominasi tanaman sayuran kentang yaitu Kecamatan Batur 4300 ha, Kecamatan Pejawaran 3200 ha, Kecamatan Wanayasa 450 ha, dan Kecamatan Kalibening 50 hektare.

“Total luas tanaman kentang 8000 ha dengan rata-rata produksi 1200 ton per tahun. Dan melibatkan 3.200.000 orang per tahun. Jenis kentang paling banyak Granola, Tejo MZ, Atlantik, dan Agria” katanya.

Produksi kentang unggul menghadapi masalah, sebab kebutuhan benih unggul 12000 ton per tahun, yang dapat dipenuhi dari petani penangkar 300 ton atau 2,5 % dari kebutuhan. Jelas jumlah ini kurang banyak. Akibatnya petani banyak membeli benih dari luar kabupaten dan menggunakan bibit non unggul. Hal ini melahirkan keprihatinan sendiri sehingga dilakukan sejumlah upaya untuk mengatasinya.

“Harapan ke depan produksi kentang dapat ditingkatkan dengan melalui produk-produk pertanian kentang yang ramah lingkungan, tercukupinya benih unggul dari petani yang sedapat mungkin merupakan hasil penangkaran petani sendiri, dan terbangunnya balai pembenihan melalui pembuatan laboratorium cultural jaringan,” katanya. (**--eko br)