JADWAL PENTAS DUTA SENI dan ACARA SENI BUDAYA BULAN MEI 2015

Date: 
Minggu, 3 Mei, 2015 to Sabtu, 23 Mei, 2015
Lokasi: 
DI ANJUNGAN JAWA TENGAH TAMAN MINI "INDONESIA INDAH"
Categories: 
Tari Perang Centong

1. Pentas Duta Seni Kota Pekalongan
Hari / Tanggal : Minggu, 3 Mei 2015
Waktu : Pukul 10.00 WIB
Kesenian : Pergelaran Tari "Bunga Rampai Sufi Multikultur"
Pameran : Batik, Kerajinan, Olahan Ikan dan Olahan Jahe.

SINOPSIS “BUNGA RAMPAI SUFI MULTIKULTUR“ DUTA SENI KOTA PEKALONGAN 3 MEI 2015
Kota Pekalongan memiliki beragam tradisi, seni dan budaya. Hal ini terbentuk karena masyarakat Kota Pekalongan terdiri dari 3 etnis yaitu Jawa, Arab dan Tionghoa. Sehingga kekayaan seni budaya Pekalongan juga diwarnai seni budaya dari ketiga etnis tersebut.

Kesenian yang dikemas dalam wujud bunga rampai ini sangat menarik karena menjadi sebuah seni pertunjukan dari berbagai jenis kesenian, baik berupa seni tradisi, seni kreasi maupun kesenian yang memiliki nilai agamis. Pertunjukan tersebut terurai dan tersaji dengan indah seolah sebuah perjalanan kehidupan manusia seutuhnya, dimana didalam dirinya terdapat berbagai macam nilai kehidupan berupa angkara, keluhuran, kebersamaan, gotong royong dan spiritual.

Pertunjukan kesenian yang akan dipentaskan di Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta kali ini adalah : Tari Batik Jlamprang, Tari Bondoyudho, Tari Sintren Garap, Kesenian Barongsay, Tari Rampak Hadroh / Arwana, Nada Sholawat, Tari Sufi, Tari Marawis dan tari Zapin.

2. Pentas Duta Seni Kabupaten Brebes
Hari / Tanggal : Minggu, 10 Mei 2015
Waktu : Pukul 10.00 WIB
Kesenian : Upacara Ngasa "Tradisi Kampung Budaya Jalawastu"
Pameran : Batik dan Makanan Khas Brebes

SINOPSIS “TRADISI KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU“ DUTA SENI KABUPATEN BREBES 10 MEI 2015
Jalawastu adalah merupakan sebuah pedukuhan di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes yang masih mempertahankan dan melestarikan adat budaya tradisi yang telah wariskan oleh leluhurnya sejak ratusan tahun silam yaitu TRADISI NGASA yang dilaksanakan pada saat masa kasanga hari selasa kliwon.

Dalam Tradisi Ngasa ini diawali peperangan antara Gandawangi dan Gandasari perang antara kebaikan dan ke angkaramurkaan yang di sebut dengan PERANG CENTONG yang bertempat di kampung Jalawastu, namun sebelum perang centong sebagai rasa syukur akan kekayaan hasil bumi di Kabupaten Brebes seperti padi, jagung, bawang merah dll maka di tampilkan dahulu seni TARI BAWANG MERAH dan selanjutnya ibu-ibu warga kampung jalawastu memasuki PELATARAN GEDONG tempat untuk prosesi ngasa dengan membawa nasi jagung, lauk pauk (sayur), sesajen dan semua makanan yang tidak bernyawa.

Selanjutnya prosesi Ngasa sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meminta selamat serta di jauhkan dari marabahaya prosesi ngasa dilaksanakan yang di pimpin oleh Pemangku Adat Jalawastu dan dibacakan do`a oleh juru kunci kumudian diikuti oleh dewan kokolot, jagabaya dan semua warga kampung adat jalawastu yang hadir. Setelah ritual ngasa selesai maka makanan yang telah disajikan dan di beri do`a dimakan bersama – sama yang hadir di pelataran gedong dan membawa pulang sisa-sisa makanan untuk ternak yang dimiliki warga.

Selanjutnya setelah warga yang telah melaksanakan ritual ngasa selesai maka diberi sebuah tontonan atau hiburan seni taridisional kampung jalawastu yaitu : 1. Tari Manuk Dadali, 2. Tari Dengdong, 3. Tari hoe gelo (rotan gila)

TARI MANUK DADALI TARI DENGDONG TARI HOE GELO (ROTAN GILA GILA)

3. Pentas Duta Seni Kabupaten Kendal
Hari / Tanggal : Minggu, 17 Mei 2015
Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Kesenian : Dramatari "Kyai Gusti" Babad Sukorejo
Pameran : Makanan Khas Kendal Rambak, Bandeng, Singkong, Krispy,
Pecel Semanggi, Pisang Bulu, Buah Naga, Sawo, Beras Organik,
Batik.

SINOPSIS DRAMA TARI "KYAI GUSTI" BABAD SUKOREJO DUTA SENI KABUPATEN KENDAL 17 MEI 2015
Setelah Pangeran Diponegoro, Kyai Maja ditipu, ditangkap dan dibuang Kompeni Belanda segera perintah Soma kancil ( Antek Kompeni ) membawa orang - orangnya, untuk menghancurkan sisa - sisa Laskar Diponegoro, dengan membakar / membumi hanguskan "GOA SELARONG".

Namun ada dua senopati muda yang gagah perkasa, dengan kegigihannya mereka lolos, menerobos kepungan api dan Kompeni. Mereka berdua adalah Panembahan Agus Sekti Raden dan Mas Rustam Suryadiningrat.

Dengan langkah DEDEMITAN, mereka berdua menelusuri pegunungan kendeng menuju wilayah TLANGU di Gunung Perahu.

Disitu mereka disambut oleh Kyai Kadilangu Muda beserta Santri - santrinya dan membaur, bertani, berlatih bersama ilmu Agama dan kanuragan guna menghadapi penjajah Kompeni Belanda.

Perjuangan tidak akan pernah berhasil jika tidak ada persatuan dan kesatuan dari seluruh rakyat, maka ketiga Tokoh yang telah bergabung, berpendapat untuk mempersatukan Laskar Diponegoro, dan memperkuat sektor pembekalan pangan yang memadai untuk mendukung setiap pertempuran disegala medan, sehingga ketika Soma Kancil dan prajuritnya menemukan mereka terjadilah perang besar, dan tewaslah sang penjilat SOMA KANCIL.

Maka Tlatah Tlangu kemudian dikembangkan menjadi sebuah desa yang diharapkan mampu berdiri, dan menyangga kehidupan rakyatnya dan mampu mempertahankan diri dari tangan-tangan rakus yang ingin menjamahnya. Desa ini kelak diharapkan menjadi Desa yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Kaloka diseluruh bumi serta tentrem kerta sejahtera sehingga Kanjeng Kyai Gusti berkenan memberikan nama desa ini dengan nama Desa Sukorejo.

4. Pentas Duta Seni Kota Surakarta
Hari / Tanggal : Sabtu, 23 Mei 2015
Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Kesenian : Pergelaran Wayang Orang Sriwedari
Cerita : Samudera Beteng Praja

5. Pentas Duta Seni Kabupaten Pekalongan
Hari / Tanggal : Minggu, 24 Mei 2015
Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Kesenian : Parade Tari Lepas ( Tari Gambyong, Tari Kebyok Anting -
anting, Tari Rebana, Tari Tumandang, Tari Geol Denok )

6. Lomba Makanan Khas ; Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah

Hari / Tanggal : Sabtu - Minggu, 23 - 24 Mei 2015
Waktu : Pukul 09.00 s/d selesai
Peserta : 35 Kabupaten / Kota se Jawa Tengah
Tempat : Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta

7. Pentas Duta Seni Kabupaten Banjarnegara
Hari / Tanggal : Minggu, 31 Mei 2015
Waktu : Pukul 10.00 WIB
Kesenian : Musik, Dialog dan Tari Tradisional
"Serayu Makantar - Kantar"
Pameran : Makanan Khas ( Gula Jawa dan Aren, Minuman Carica,
Minuman Purwaceng, Kripik Jamur dan Kacang Dieng,
Kentang Dieng, Buah Salak, Sirup dan Keripik Salak,
Batu Akik Banjarnegara, kain Batik Gumelem,
Batu Tambang )

“Serayu Makantar - kantar”
‘Serayu’ : Dalam sejarah persebaran agama Hindu Mahayana di Jawa Dwipa, Sungai Serayu adalah sungai suci yang konon diciptakan oleh Bima. Nama Serayu berasal dari kata ‘soroh hayu’ yang berarti totalitas penyerahan hidup manusia terhadap Sang Pencipta.

‘Makantar-kantar’ : Sangat terkenal, harapan eksistensi sungai serayu dengan segala keunikan, eksotisme tradisi budaya dan kehidupan masyarakatnya mampu menjadi kekuatan mewujudkan Banjarnegara terkenal meluas di level nasional maupun internasional.

Sehingga secara keseluruhan “Serayu Makantar-kantar” memiliki arti totalitas penyerahan hidup manusia dalam melakukan karya demi keberhasilan dan kesejahteraan manusia, sehingga dapat menjadikan Banjarnegara terkenal di seluruh pelosok negeri.

PENTAS SENI RAKYAT BANJARNEGARA DI TMII JAKARTA OLEH SANGGAR SENI SEKAR SHANTY KARANGJATI
Sanggar Seni Sekar Shanty adalah salah satu sanggar paling produktif di Kabupaten Banjarnegara. Berproses di wilayah pedesaan di lingkungan akar tradisi masyarakat yang tengah berubah dari tradisional - agrais ke arah modern teknologis. Ini sangat tampak dari model garapan karya-karyanya yang sangat merakyat dengan sentuhan inovasi-inovasi kekinian.

Beberapa karyanya sudah diakui di tingkat nasional maupun internasional. Karya tari Lobong Ilang menjadi karya terbaik pada lomba Cipta Karya Tari Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia. Sampai sekarang banyak seniman dari Inggris, USA, Jepang dan Singapura yang belajar musik dan tari di sanggar ini. Pada kesempatan ini Sanggar Seni Sekar Shanty mengajak warga masyarakat desa Karangjati untuk boyongan pentas di TMII dengan menampilkan berbagai ragam kesenian rakyat yang membumi di wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Tari Goyang Banjarnegara merupakan hasil inovasi sajian tarian rakyat lengger menjadi semacam tari gambyong sebagai tari ucapan selamat datang. Inovasi sajian meliputi gerak tarian, garap musik, rias-kostum hingga pola sajian. Inovasi gerak tarian berupa penciptaan pola gerak perpaduan tradisi - kontemporer, penguatan volume gerak tradisi, maupun eksporasi varian gerak selama sajian. Garap musik berupa inovasi sajian calung Banyumasan melalui penggunaan gendhing - gendhing yang bervariasi, teknik tabuhan yang terukur serta pola garap sajian yang dinamis.

Dhaengan, Salah satu kesenian khas Banjarnegara adalah kesenian aplang atau dhaeng, yaitu tarian islami yang pada masa lalu berkembang di kalangan komunitas santri. Dengan iringan trebang Jawa, genjring, dan kendhang, aplang atau dhaeng disajikan dengan pola gerak Banyumasan yang dipadu dengan iringan tembang-tembang slawatan. Eksplorasi ragam gerak tarian telah menghasilkan pola-pola gerak yang dinamis, atraktif, dan semangat mewakili etos kerja masyarakat penginyongan dalam pergulatan hidup yang keras dan terus berubah. Pola-pola iringan yang pada pertunjukan tradisional umumnya bersifat datar dan monoton telah diinovasi menjadi iringan yang dinamis, energik dan semangat. Tari Dhaengan mampu menyuguhkan karakter egaliter, dinamis dan atraktif mewakili etos budaya penginyongan.

Jaran Dhoger, Salah satu kesenian rakyat yang paling populer di Banjarnegara adalah ebeg yang disebut juga embeg atau embleg. Wujud pertunjukan tradisional ebeg adalah tarian rakyat menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman Bambu. Adapun dhoger adalah tarian rakyat yang dilakukan oleh penari-penari perempuan untuk keperluan hiburan di pasar-pasar malam atau tempat-tempat keramaian yang lain. Tari Jaran Dhoger berupa inovasi sajian ebeg dalam durasi terbatas yang melibatkan penari pria dan wanita yang di dalamnya dipadukan unsur ebeg dan unsur dhoger. Iringan menggunakan perangkat gamelan Jawa dengan dilakukan inovasi pada ragam gerak tarian, musik iringan, rias-kostum dan pola sajian.

Sendratari Mandala Serayu, Sendratari Mandala Serayu merupakan sajian tarian dramatik yang menceritakan legenda pembuatan sungai Serayu oleh para ksatria Pandhawa. Dikisahkan para ksatrian Pandhawa dan Kurawa sedang berguru kepada Pandhita Durna. Pada suatu saat di tanah Jawa terjadi kekeringan karena kemarau panjang yang menyebabkan kesengsaraan rakyat. Pandhita Durna memerintahkan kepada para siswanya untuk membuat sungai. Kurawa memilih mengalirkan mata air di Gunung Agung (sekarang gunung Slamet) ke arah selatan. Sedangkan Pandhawa memilih mengalirkan mata air dari Gunung Jamur Dwipa (Pegunungan Dieng). Mereka berlomba-lomba lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya mengalirkan air mencapai pantai selatan. Di luar dugaan atas permintaan Duryodana, Pandhita Durna membantu Kurawa dalam pembuatan sungai tersebut. Dengan kekuatan yang dimiliki, Pandhawa yang dipimpin oleh Bima berhasil memenangkan perlombaan. Sebagai hukumannya Pandhita Durna diputus kemaluannya dan hingga sekarang masih tersisa artefaknya di Panembahan Drona di wilayah Kedungbenda, wilayah kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Pada akhir cerita para Kurawa mengamuk dan para Pandhawa berhasil mengalahkannya.