Pemanfaatan Kekayaan Laut Indonesia Masih 25 Persen

Kam, 22/12/2016 - 23:30 -- humasjtg3

Semarang - Pemanfaatan potensi laut Indonesia kini baru mencapai 25 persen. Tertinggal jauh dengan negara-negara lain, seperti Islandia, Norwegia, Jepang, dan China.

"Indonesia itu baru 25 persen. Sementara di China sudah 48 persen, Jepang 54 persen, dan bahkan Islandia dan Norwegia mencapai 65 persen. Kita kalau bisa naik dua kali lipat saja sudah luar biasa. Saya kira di kementerian, Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) akan terus memacu," kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP saat menjadi pembicara dalam kuliah umum di Magister Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Undip, Kamis (22/12).

Sri Puryono membeberkan, minimnya pemanfaatan laut disebabkan beberapa faktor. Antara lain, keterbatasan sarana prasarana, khususnya armada laut dan alat tangkapnya, serta ketersediaan kapal nelayan Indonesia yang rata-rata hanya 10 sampai 20 Gross Ton (GT). Padahal, untuk pemanfaatan laut minimal empat mil, diperlukan kapasitas kapal 30 GT. Jumlah kapal berkapasitas 30 GT saat ini hanya 5.329 kapal. Padahal, setidaknya dibutuhkan 22.000 unit kapal.

"Bagaimana mau bisa bertahan kalau kapalnya rata-rata hanya 10-20 GT. Ikannya hanya dapat yang di pinggir-pinggir. Sementara di negara lain, selain kapasitas kapalnya sudah memadai, didukung juga dengan SDM yang pinter-pinter, teknologi prosesnya sudah tinggi, dan packaging-nya baik," ungkapnya.

Potensi laut Indonesia, imbuhnya, sangat besar. Untuk potensi lestari (yang bisa diambil) sumber daya ikan mencapai 7,3 juta ton per tahun. Indonesia juga menduduki peringkat kedua produksi perikanan tangkap (5,4 juta ton). Dan, pada 2014 bisa meraih penghasilan Rp 7,2 triliun atau empat kali lipat dari APBN saat itu. Melihat besarnya potensi laut, Sri Puryono berpesan agar para generasi muda senantiasa melakukan inovasi dan kreasi untuk memajukan potensi laut Indonesia. (Biro Humas Setda Prov Jateng)