Museum BPK, "Fun" Pelajari Pengelolaan Keuangan Negara

Sen, 09/01/2017 - 20:07 -- a60es

Magelang - Museum seringkali dianggap sebagai bangunan menyeramkan yang merekam peristiwa-peristiwa bersejarah. Anggapan tersebut membuat museum sebagai salah satu sarana edukasi tidak banyak dikunjungi oleh masyarakat.

Tantangan itulah yang coba dijawab oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dengan cara mempercantik wajah Museum BPK RI yang khas sentuhan modern. Museum yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 1 itu mengisahkan 70 tahun perjalanan BPK RI sejak beroperasi pada 1946 silam.

Sekretaris Jenderal BPK RI Hendar Ristriawan SH MH menjelaskan, museum tersebut dibangun dengan konsep modern untuk menghilangkan kesan museum yang sering diasumsikan masyarakat sebagai bangunan yang menyeramkan. Dukungan teknologi informasi pun menyertai isi dari koleksi museum.

"Dukungan teknologi informasi ini bermaksud agar pengunjung yang memang berminat mempelajari kesejarahan BPK dapat memanfaatkan segenap panca inderanya. Tidak saja dengan melihat visual melalui film tetapi juga membaca koleksi," terangnya saat menghadiri Peresmian Renovasi Museum BPK dan Peluncuran Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) 2017 dan Aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL) di Museum BPK RI, Senin (9/1).

Museum yang pada 1997 luas bangunannya hanya 163,80 m2 itu mengalami dua kali perluasan. Perluasan pertama berlangsung pada 1999 dengan luas bangunan 260,16 m2. Perluasan kedua berlangsung pada 2016 karena adanya hibah sebagian gedung Kantor Bakorwil II Kedu dan Surakarta yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kini, luas bangunan Museum BPK RI 3.880 m2. Dengan adanya perluasan tersebut, BPK RI membangun beberapa ruang yang didukung teknologi informasi yang memadai, termasuk perpustakaan.

"Museum ini didedikasikan untuk pusat penelitian. Di dalamnya ada perpustakaan. Museum ini juga kami jadikan sarana rekreasi. Oleh karena itu, permainan-permainan yang dirancang di dalam museum ini agar pengunjung dapat belajar tentang BPK, tetapi tidak dalam suasana yang serius, lebih fun," ungkap Hendar.

Tak hanya meresmikan wajah baru museumnya, BPK RI juga me-launching Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) 2017 dan Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL). Wakil BPK RI Drs Sapto Amal Damandari Ak CPA CA mengatakan SPKN 2007 telah disempurnakan setelah sepuluh tahun digunakan sebagai standar dalam pemeriksaan. Penyempurnaan tersebut berdasarkan standar SPKN internasional, nasional, maupun tuntutan kebutuhan saat ini. Sementara itu, penggunaan SIPTL akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas serta tersedianya informasi yang real time secara lebih akurat.

Gubernur Jawa Tengah mendukung penuh niat baik BPK RI mengembangkan museum. Menurutnya, keberadaan Museum BPK RI akan mengedukasi masyarakat agar paham dengan pengelolaan keuangan negara yang baik dan benar. Bahkan, dengan desain modern dan didukung fasilitas TI yang memadai, Museum BPK RI tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik, namun juga memungkinkan pengunjung anak-anak untuk belajar tentang integritas lebih dini. Penyempurnaan SPKN dan SIPTL juga turut membantu pengelolaan keuangan negara secara sistematis dan akuntabel.

"Mudah-mudahan museum ini juga akan bisa memberikan pembelajaran. Anak-anak dari awal bisa mempelajari integritas sejak dini dari museum ini. Saya kira ini akan menjadi museum modern yang merekam perjalanan sejarah secara menarik," harap orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Letak Museum BPK RI yang berdekatan dengan Museum Diponegoro menjadi destinasi wisata yang strategis. Pasalnya, di kompleks yang sama, pengunjung juga dapat mengenang kembali aksi heroik Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Di museum itu, pengunjung dapat menyaksikan beberapa barang asli milik sang pahlawan . Seperti jubah, kursi jati, kitab, hingga balai-balai yang digunakan Pangeran Diponegoro saat menunaikan salat. (Humas Jateng)