Menentang Perbedaan = Melawan Kehendak Tuhan

Sab, 24/12/2016 - 09:26 -- humasjtg3

Semarang - Keberagaman atau kebhinekaan di Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus terus dirawat dan dijaga. Jangan pernah menjadikan perbedaan ras,suku, dan agama sebagai pemicu perpecahan ataupun pertikaian, karena menentang perbedaan itu sama dengan menentang kehendak Tuhan.

"Indonesia memang mayoritas penduduknya Islam, tapi Indonesia jelas bukan negara Islam dan bukan negara sekuler. Nilai-nilai agama menjadi faktor penting untuk merajut dan merangkai perbedaan dan kemajemukan yang ada," ujar Menteri Agama Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin pada acara Pembinaan Kerukunan Umat Beragama di Gedung Islamic Center Semarang, Jumat (23/11).

Menurutnya, Tuhan sengaja menciptakan manusia yang beragam agar senantiasa hidup rukun, saling menghormati, dan menghargai. Karena jika Tuhan menghendaki, sangat mudah bagi Tuhan sebagai zat maha segalanya untuk menciptakan semua manusia sama atau seragam. Namun Tuhan menghendaki manusia dengan berbagai ras, suku, dan agama. Jadi, manusia jangan menentang-Nya.

Lebih lanjut Lukman menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang religius, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, dan memiliki kekhasan sendiri. Para pendahulu telah memosisikan agama pada posisi vital dan ikut menata kehidupan bersama. Sehingga kerukunan, tenggang rasa, toleransi dan saling menghormati yang diwariskan kepada generasi bangsa harus terus dirawat dan diajarkan.

Dalam kegiatan yang dihadiri kepala Kanwil Kementerian Agama dari seluruh wilayah di Jateng dan para tokoh lintas agama, Menag mengatakan kerukunan dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keagamaan. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan yang semakin berat.

"Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi sangat memengaruhi hubungan antarumat beragama. Sekarang semua orang bisa dengan mudah mengakses beragam informasi tanpa batas. Bahkan di media sosial banyak orang menghujat dan memaki orang lain," terangnya.

Dalam konteks Indonesia, kata Lukman, negara tidak bisa berjalan sendiri dan butuh spiritualitas sebagai ruh atau jiwa agar semua berjalan baik. Maka hubungan antara pemuka agama dan penyelenggara negara adalah simbiosis mutualisme atau relasi yang saling menguntungkan.

Pemuka agama dan penyelenggara negara, merupakan dua aktor utama yang bisa menciptakan toleransi, tenggang rasa, dan saling menghormati antarumat. Jika ada tokoh agama bertindak di luar batas, maka di dibutuhkan penyelenggara negara untuk mengontrol, memberi masukan, dan mengimbangi. Begitu pula sebaliknya, sehingga niilai agama dan negara berjalan dengan baik.

"Agama perlu negara agar keberadannya tidak di awang-awang dan agama juga harus diimplementasikan di kalangan umat. Selain itu agama tidak hanya difasilitasi, tapi perlu proteksi," imbuhnya.

Senada disampaikan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP. Dijelaskan, Indonesia adalah negara yang tingkat pluralitasnya tinggi. Negeri ini tidak bisa berdiri kokoh jika rakyat tidak mampu meyakini dan mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar negara Indonesia.

"Republik ini lahir atas perjuangan pendahulu. Dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengklaim bahwa kemerdekaan lahir karena mbahku atau mbahmu saja, tapi atas perjuangan bersama," katanya.

Ganjar menyebutkan, ada beberapa catatan yang menjadi PR bersama untuk kembali mengonsolidasikan bangsa ini dari berbagai tantangan dan uji coba yang luar biasa dasyat. Baik tekanan eksternal maupun internal yang meliputi bidang ekonomi, politik, sosial, maupun agama.

"Serangan narkoba, radikalisasi, serta kemajuan teknologi informasi begitu luar biasa. Nah bapak-ibu sekalian (tokoh lintas agama) inilah orangnya yang bisa memberikan pemahaman tentang nilai-nilai agama, toleransi, dan kebersamaan kepada masyarakat untuk dimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga suasananya adem," tandasnya. (Biro Humas Setda Prov Jateng)