Manajemen Perlu Sentuhan Budaya

Sab, 24/12/2016 - 12:19 -- humasjtg3

Semarang - Praktik manajemen di berbagai bidang di Indonesia memerlukan sentuhan budaya. Tidak terkecuali manajemen pemerintahan daerah. Pemimpin maupun anggota organisasi harus saling memahami dan menghargai budaya.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko Msi saat menghadiri Pelantikan Pengurus ISEI Cabang Semarang Periode 2016-2019 dan Bedah Buku "Manajemen Indonesia " Karya Dr Suharnomo SE MSi si Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, Jumat (23/12).

"Salah satu unsur penting dari manajemen adalah komunikasi. Di dalam komunikasi kecerdasan budaya menjadi penting," terangnya.

Heru mencontohkan, kepemimpinan memuat nilai-nilai budaya. Di Jawa Tengah, dikenal pepatah ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Bukan sekedar pepatah, tiga kalimat filosofis itu mencerminkan karakter pemimpin yang harus siap menjadi teladan, mampu berjalan berdampingan, dan mampu mendorong anggota organisasi yang dipimpinnya untuk mewujudkan tujuan bersama. Tuntutan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemimpin. Di Jawa Tengah misalnya, gubernur tidak hanya memberikan arahan kepada kepala daerah di 35 kabupaten/kota. Agar arahannya dilaksanakan dengan baik, gubernur menyampaikannya dengan memperhatikan tata krama yang ada pada budaya Jawa Tengah.

"Ketika kita bicara di Jawa Tengah, apa sih masalahnya? Salah satunya kemiskinan di 35 kabupaten/kota. Tetapi tidak mudah untuk memberikan instruksi kepada bupati/wali kota. Perlu sentuhan budaya," jelas Heru.

Menurut Heru, kepemimpinan yang berbasis budaya merupakan ciri khas manajemen Indonesia. Heru berharap, kajian manajemen Indonesia dapat disampaikan pada perkuliahan mahasiswa, sehingga ketika terjun ke dunia kerja mereka dapat menerapkan praktik manajemen dengan memperhatikan budaya yang dijunjung masyarakat.

Senada dengan Heru, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro sekaligus penulis buku Manajemen Indonesia Dr Suharnomo SE MSi membeberkan riset yang mendasari karyanya itu. Suharnomo mengungkapkan, sebagian responden survei menyebutkan, bahwa kepemimpinan yang ideal menurut mereka adalah kepemimpinan yang mengayomi. Artinya, kepemimpinan yang mengayomi dipandang sebagai kepemimpinan yang tepat dengan karakteristik budaya lokal.

Pada acara tersebut hadir pula Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Prof H M Nasir SE MSi PhD Akt yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Semarang. Nasir berpesan agar pengurus dan anggota ISEI Semarang dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM berbasis teknologi. (Biro Humas Setda Prov Jateng)