Jangan Sampai Judul Bombastis, Isi Itu-itu Saja

Sen, 09/01/2017 - 14:07 -- a60es

Semarang - Menulis berita tidak sekadar membuat berdasarkan informasi yang didapat. Lebih dari itu harus memerhatikan akurasi, tidak beritikad buruk, serta menguji informasi.

Hal tersebut ditegaskan jurnalis senior Sutjipto dalam orasi ilmiahnya pasa Peresmian Kelulusan Sekolah Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah Paket Enam Pekan Angkatan II Tahun 2016, di Aula Fakultas Hukum Unissula, Senin (9/1). Diakui, persaingan media online, elektronik, maupun surat kabar harian menuntut wartawannya untuk menyajikan berita yang aktual. Terlebih berita bernilai tinggi.

Kendati begitu, imbuhnya, kode etik jurnalisme menuntut akurasi, kecermatan, dan ketelitian berita. Tuntutan aktualitas yang terlalu besar berpotensi mengakibatkan kesalahan penulisan berita.

"Akurasi yang didahulukan, bukan aktualitas. Uji informasi itu suatu keharusan dan perintah undang-undang. Jadi, begitu dapat informasi awal, harus disikapi dengan bijak. Jangan terburu-buru dipublikasikan. Wartawan harus tabayyun," tegas Sutjipto.

Kebebasan pers, terangnya, bukan berarti bebas tanpa batas yang punya potensi melabrak hak asasi orang lain. Kebebasan pers memiliki batas sesuai koridor hukum. Bagian pembukaan kode etik jurnalistik sudah menekankan dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama. Artinya, kata Sutjipto, perlu pertimbangan kelayakan informasi untuk diangkat menjadi berita.

"Wartawan profesional, yang setia pada bangsa dan negara, tidak akan menurunkan berita-berita seperti itu (yang tidak layak tayang). Saya berharap PWI Jateng bisa menjadi energi positif, energi bagus dalam membangun Jawa Tengah," bebernya.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP mengakui dunia jurnalistik seolah menjadi magnet bagi mahasiswa untuk menggelutinya. Berkecimpung dalam kewartawanan bisa sangat menyenangkan, dapat pula menyusahkan atau menyedihkan. Namun, wartawan harus profesional, faham di bidangnya. Menjadi wartawan tidak sekadar menjinjing kamera, memburu dan membuat berita, tapi mesti beretika sesuai kode etik jurnalistik dan perundangan yang mengikat.

"Jangan sampai salah tulis, salah info. Apalagi tanpa konfirmasi atau verifikasi sudah ditulis. Ah pak, kan nanti bisa diklarifikasi. Tidak bisa seperti itu. Jangan sampai judulnya bombastis tapi isinya itu-itu tok," ungkapnya.

Paradigma bad news is a good news harus diubah. Sebab, informasi yang bagus pun bisa memiliki nilai berita, bahkan bisa mengedukasi masyarakat. Kemampuan menulis pun bisa dimanfaatkan mahasiswa dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Mereka dapat menuangkannya melalui tulisan, lengkap dengan solusi atau ide-ide yang applicable.

"Hal itu jauh lebih bermanfaat daripada hanya menghujat di media sosial," tandas Sri Puryono.

Dalam kesempatan itu, Sekda Sri Puryono didampingi Ketua PWI Amir Machmud NS dan Dekan Fakultas Hukum Unissula Dr Jawade Hafidz SH MH menyerahkan piagam kepada lulusan terbaik Sekolah Jurnalistik Angkatan II. Terpilih sebagai terbaik I, Yulisa Dian Mulyaningsih. (Humas Jateng)