Integritas Tinggi = Berani, Konsisten, Jujur

Kam, 12/01/2017 - 15:02 -- ully

Bandung - PT Pos Indonesia (Persero) kini tengah gencar melakukan upaya pengendalian gratifikasi untuk meningkatkan integritas perseroan. Salah satunya dengan menyelenggarakan workshop bertema Bersih Hati, Tegak Integritas, Kerja Profesional untuk menjadikan PT Pos Indonesia (Persero) Juara.

Hadir sebagai salah satu narasumber pada workshop yang diselenggarakan di Graha PT Pos Indonesia Bandung Jawa Barat, Rabu (10/1) tersebut, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP. Menurut Ganjar, gratifikasi merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk korupsi. Ada tiga hal The Fraud Triangle yang mendorong terjadinya fraud (kecurangan). Yakni, opportunity (situasi yang diciptakan untuk membuka kesempatan melakukan kecurangan), pressure (tekanan untuk melakukan korupsi), dan rationalization (ada sikap, karakter atau serangkaian nilai-nilai etis yang “membolehkan” untuk melakukan tindakan tidak jujur).

“Kita punya nilai-nilai Pancasila yang sudah dihafalkan, meski pelaksanaannya tidak tahu. Tapi, penekanan value itu saya kira baik,” ujar orang nomor satu di Jawa Tengah itu.
Sebagai seorang gubernur, dia tidak memungkiri The Fraud Triangle sering dialaminya. Butuh integritas yang tinggi untuk tidak terjebak pada godaan itu. Seseorang yang punya integritas tinggi, menurutnya adalah orang yang mempunyai karakter berani, konsisten, jujur, dan mengikuti hati nurani.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi Wahyu Setijono menyampaikan penyelenggaraan workshop tersebut merupakan salah satu wujud dari komitmen pihaknya untuk ikut berperan aktif dalam menolak dan mencegah praktik korupsi di lingkungan PT Pos Indonesia (Persero). Sehingga, tujuan pengendalian gratifikasi yang merupakan bagian dan upaya pembangunan suatu sistem pencegahan korupsi dapat berjalan secara transparan dan akuntabel.

Gilarsi menambahkan pengendalian gratifikasi memberikan manfaat dalam membentuk pegawai yang berintegritas. Di samping itu, akan meningkatkan kesadaran pegawai untuk menolak gratifikasi. Keberhasilan pengendalian gratifikasi juga berdampak pada pembentukan citra positif dan peningkatan kredibilitas perusahaan.

“Lingkungan akan kondusif karena tidak ada praktik pemberian uang pelicin, suap dan penerapan dalam memberikan Iayanan," katanya.

Gilarsi meminta, seluruh pegawai PT Pos Indonesia dapat melaksanakan komitmen pengendalian gratifikasi secara aktif. Antara lain dengan cara berani menolak gratifikasi berkategori suap, melaporkan penerimaan gratifikasi, mau memberikan pemahamanan kepada rekan atau mitra kerja tentang aturan gratifikasi, dan mengapresiasi rekan kerja yang mau melaporkan penerimaan gratifikasi.

“Ketika kita melatih (integritas) teman-teman, ditemukan hasil omongan yang menarik. Itu tergantung bosnya. Begitu pucuk pimpinan bilang no, ternyata birokrasi bersih bisa berjalan. Staf saya ngajari, diibaratkan nyiram pakai gayung. Kalau menyiramnya dari atas, maka dari atas sampai bawah akan terkena semua. Tapi kalau cuma dari tengah, ya contohnya tidak akan mengalir,” tandasnya. (Humas Jateng)