Hapus Imej BPR Bank Ndesa

Rab, 28/12/2016 - 17:29 -- humasjtg3

Semarang - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tidak boleh minder. Anggapan sebagai "bank pinggiran" harus ditanggalkan dari pemikiran segenap direksi dan karyawan BPR. Mereka mesti proaktif bekerja, karena BPR menjadi ujung tombak mengentaskan kemiskinan di daerah.

"(BPR) Itu bukan bank ndesa. Bukan bank kecil yang adanya di sudut-sudut. BPR adalah bank yang bekerja pada tingkatannya. Masing-masing punya segmentasi, punya visi yang bisa mengembangkan potensial market. Bapak/ Ibu harus berpikir itulah target saya untuk tumbuh. Itu kontribusi saya untuk Indonesia," kata Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat menghadiri Business Gathering Outlook 2017di Patra Convention Hotel, Rabu (28/12).

Pada pertemuan bertajuk "Strategi Bersaing BPR untuk Meningkatkan Kinerja dalam Menyikapi Perubahan Fenomena Market 2017 dan Inside The Mind of The Leader as A Market", Ganjar menambahkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di tingkat desa, BPR harus proaktif mendekati segmen pasarnya yang sebagian besar adalah pedagang kecil. Riset pemasaran harus dilakukan sebelum mereka menawarkan jasa kredit kepada pedagang kecil. Sehingga dapat mengantisipasi kredit macet.

"Bapak/ Ibu kan banyak customernya pedagang pasar. Setiap pasar itu adalah target. Positioning kita sudah jelas. Kita nggak akan bersaing dengan (bank) yang besar kok. Strateginya silakan lebih proaktif. Caranya, setiap pasar didatangi, minta data ke dinas pasarnya. Data kita pegang dulu. Analisisnya di depan, meskipun belum ngutang. Maka ada marketing research-nya," terang orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Selain itu, BPR dapat bersinergi dengan bank BUMD atau bank BUMN. Karenanya, Ganjar meminta BPR tidak takut untuk berinovasi. Misalnya, transaksi dilakukan secara praktis melalui gadget. Dengan bekerja secara proaktif, BPR turut mengubah citra bank plat merah yang seringkali dipandang masyarakat sebagai bank yang kurang berkualitas.

"Kalau masyarakat bilang bank pemerintah itu ora mutu, kita balik, (bank pemerintah) itu mutu. Dulu untuk membuat keputusan, mau jadi direksi, nyogok. Sekarang tidak ada nyogok-nyogokan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Business Gathering Outlook 2017 Kusnanto menuturkan, BPR di Jawa Tengah terus menunjukkan perkembangan positif. Pada 2016, tercatat mampu menghimpun dana masyarakat sebesar Rp 7,736 triliun.