Gubernur Jelata: Ganjar Juga Manusia

Min, 18/12/2016 - 09:46 -- humasjtg3

Magelang - Sabtu (17/12) itu Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang tampak begitu ramai. Rombongan kirab warga berbaris rapi sembari membawa alat musik tradisional. Melalui jalan setapak, mereka menuju puncak Candi Wukir. Rencananya, candi yang diperkirakan berusia 1.300 tahun itu dijadikan panggung atraksi budaya.

Benar saja. Di pelataran candi, 12 orang centini gunung menari dengan anggun diiringi lantunan alat musik tradisional. Atraksi budaya itu tidak hanya disaksikan oleh warga setempat, namun juga Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP. Termasuk, sejumlah wisatawan asing.

Tak berselang lama, hujan pun mengguyur pelataran Candi Wukir. Meski semakin deras, pengunjung tetap antusias menyaksikan atraksi budaya itu hingga akhir. Rupanya, warga setempat menantikan Peluncuran Buku "Gubernur Jelata" karya Agus Becak yang menjadi acara istimewa sebagai penghujung atraksi budaya. Agus mengaku, buku yang ditulisnya itu mengungkap berbagai cerita mengesankan dari orang nomor satu di Jawa Tengah. Menurut Agus, Ganjar adalah sosok pemimpin yang "gila" di tengah zaman yang tidak menentu.

"Saya terinspirasi dari kegilaan-kegilaan Mas Ganjar. Di tengah zaman yang tidak menentu ini, zaman edan, rakyat butuh pemimpin yang edan pula. Hanya pemimpin yang "gila-lah" yang akan dicatat oleh sejarah," katanya di hadapan Ganjar Pranowo dan pengunjung lainnya.

Agus mencontohkan salah satu kegilaan Ganjar saat bencana banjir di Welahan 2014 lalu. Banjir yang meninggi membuat medan yang harus dilalui sulit dijangkau oleh mobil dinas gubernur. Tidak berpikir lama, Ganjar memilih berjalan kaki menerabas arus banjir yang tingginya selutut orang dewasa. Syukurlah, ada sebuah truk yang melintas. Ganjar pun "nggandul" di bagian belakang truk demi dapat menemui pengungsi. Penggalan kisah hidupnya yang ditulis oleh Agus membuat Ganjar semakin menyadari bahwa dia manusia biasa. Meski menjabat gubernur, Ganjar tidak memungkiri bahwa dirinya pernah pula melakukan kesalahan.

"Saya merasa menjadi manusia. Saya gubernur, tetapi saya juga orang biasa. Saya bisa marah, saya bisa tersenyum. Saya bisa dlosoran bersama mereka dan itu diceritakan oleh buku ini apa-adanya. Jadi kekurangan Ganjar banyak diceritakan oleh buku ini. Ada yang senang, ada yang tidak. Tetapi mudah-mudahan melalui buku ini kita bisa melihat sisi manusia dari seorang Ganjar," ungkapnya.(Biro Humas Setda Prov Jateng)