Festival Anak Soleh, Bangun Akhlak Mulia

Kam, 12/01/2017 - 09:35 -- ully

Semarang - Anak adalah investasi dan harapan masa depan bangsa. Karenanya kewajiban semua pihak untuk memberikan bekal ilmu yang bermanfaat kepada generasi penerus bangsa ini, salah satunya melalui Festival Anak Soleh.
Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat memberi sambutan pada acara Penyerahan Hadiah Juara Festival Anak Soleh Seluruh Indonesia (FASI) VI Tingkat Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Rabu (11/1). Penyerahan hadiah juara FASI dengan tema "Anak Soleh Indonesia Kokoh, Berakidah, Rajin Beribadah, Berbudi Pekerti Luhur, Cinta Tanah Air dan NKRI", dihadiri ratusan santri dan pendamping dari berbagai daerah di Jateng.
"Anak-anak ini adalah investasi luar biasa untuk masa depan. Melalui FASI ini akan membangun akhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dan cinta kepada orang tua. Apalagi anak dengan otak masih bersih mudah diisi dengan berbagai hal, utamanya hal-hal yang baik," katanya.
Ganjar mencontohkan upaya membangun kejujuran sejak dini terhadap anak, salah satunya melalui pemahaman tentang sesuatu yang halal dan haram. Termasuk korupsi sebagai tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh siapa pun. Bahkan anak-anak juga bisa mengingatkan orang tuanya supaya tidak melakukan korupsi seperti yang disampaikan dai cilik asal Salatiga Wildan Mauzawaki Saptian.
"Tadi Wildan dalam tauziahnya mengingatkan kita semua para orang tua untuk menjadi contoh, memberi teladan, dan inspirasi yang baik kepada anak-anak. Dan para pejabat jangan korupsi," bebernya.
Dalam kesempatan tersebut gubernur secara pribadi memberikan tambahan hadiah berupa uang tunai pembinaan sebesar Rp 3 juta kepada juara umum, yakni tim dari Kabupaten Purworejo. Untuk juara I, II, dan III dari semua kategori lomba juga diberikan tambahan hadiah masing-masing Rp 1 juta.
"Karena juara umum tadi tidak mendapat hadiah saya kasih Rp 3 juta. Sedangkan untuk juara satu, dua, dan tiga saya tambahi masing-masing Rp 1 juta," katanya.
Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) TPQ Jateng, KH Ateng Chozany menjelaskan, agenda tahunan yang diikuti para santri se-Jateng tersebut merupakan bagian bentuk strategi atau program pembinaan dan pengembangan TPQ, baik aspek kuantitas maupun kualitas.
Menurutnya, pengembangan TPQ diarahkan untuk mendorong agar program pembelajaran di TPQ tidak hanya membaca Alquran. Tetapi juga kreativitas di bidang agama sekaligus sarana menjadikan anak-anak Indonesia menjadi generasi bertakwa dan berkualitas.
"Beberapa langkah pembinaan sudah kami lakukan, bahkan sudah mencetak buku kurikulum dan buku modul bahan ajar. Sehingga di mana pun TPQ diselenggarakan di seluruh Jateng, berbasis pada kurikulum dan ajaran yang sama," terangnya.
Selain itu, dalam rangka memantapkan sejak dini tentang wawasan kebangsaan dan cinta Tanah Air, Badan Koordinasi (Badko) TPQ Jateng juga menerapkan ketentuan yang merupakan bagian dari kurikulum. Yakni pelajaran mengenai cinta agama dan Negara Nasional Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan FASI VI yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali pada pertengahan Desember 2016 tersebut diikuti kurang lebih 3.000 ribu santri cilik, termasuk para ustaz/ustazah pendampingnya. Mereka berkompetisi dalam 40 jenis bidang kreativitas santri, antara lain kasidah, tartil, salawatan, kaligrafi, cerdas cermat, pidato, serta ikrar puisi kebangsaan. (Humas Jateng)