Bela Negara Adalah Tugas Maha Berat

Sen, 19/12/2016 - 15:40 -- a60es

Semarang - Ancaman dan tantangan terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kini tidak hanya bersifat konvensional. Tapi sudah berkembang, baik fisik maupun nonfisik. Sehingga, bersifat multidimensi.

"Ancaman berkembang menjadi bersifat multidimensi karena karakter ancaman dapat bersumber dari ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya," kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP saat membacakan amanat Presiden Ir H Joko Widodo dalam Peringatan Hari Bela Negara ke-68, Senin (19/12) di halaman Kantor Gubernur.

Contoh ancaman itu, lanjutnya, adalah korupsi, termasuk pungutan liar yang nyata-nyata merusak kekuatan pondasi bangsa dan menjauhkan rakyat dari kesejahteraan. Upaya melawan korupsi di semua tingkatan, merupakan wujud pembelaan kepada negara.

"Saat ini kita juga menghadapi ancaman keamanan, yang terkait kejahatan internasional, yang dilakukan oleh nonnegara, yang memiliki kemampuan teknologi serta dukungan finansial yang kuat, dengan jaringan yang rapi tersebar di seluruh negara. Banyak anak-anak kita yang terjebak dalam ketergantungan narkotika. Banyak warga negara kita yang juga masuk dalam jaringan perdagangan manusia. Kita harus melawan kejahatan kemanusiaan ini, sebagai bagian dari kecintaan kita pada tanah air," urainya.

Menilik fakta itu, lanjut Sri Puryono, bela negara dalam kontek kekinian mempuyai cakupan yang sangat luas. Karenanya, kesadaran bela negara sangat penting ditanamkan sebagai landasan sikap perilaku bangsa Indonesia. Hal itu merupakan bentuk revolusi mental yang sekaligus akan membangun daya tangkal bangsa dalam menghadapi kompleksitas dinamika ancaman, dan mewujudkan ketahanan nasional.

"Tugas bela negara adalah tugas maha berat yang ada di depan mata kita saat ini. Tapi dengan semangat persatuan, kesatuan, kerja keras, dan perjuangan kita bersama, tugas sejarah itu bisa kita pikul bersama," ucapnya.

Ditambahkan, kesadaran bela negara dapat diaktualisasikan dalam peran dan profesi warga negara masing-masing. Seperti, para guru, bidan, dan tenaga kesehatan yang tengah berjuang melaksanakan tugasnya di perbatasan dan pelosok tanah air. (Biro Humas Setda Prov Jateng)