Bank Jateng - BPR/ BKK Diminta Tak Saling Bersaing

Kam, 22/12/2016 - 23:29 -- humasjtg3

Magelang - Bank Jateng dan BPR/ BKK diminta lebih meningkatkan sinergi. Sehingga dapat menambah kekuatan lembaga keuangan di Jawa Tengah.

Direktur Keuangan Bank Jateng Radjim mewakili Dirut Bank Jateng Supriyatno menyampaikan kerja sama antara Bank Jateng dan PD BPR/ BKK memiliki sejarah panjang. Pada 1970 hingga 1990 awal, Bank Jateng ditunjuk tidak hanya sebagai salah satu pemilik, tapi juga pengawas, pembina, dan pembimbing PD BPR/ BKK. Sayangnya, setelah bisnis Bank Jateng dan PD BPR/ BKK, seolah-olah justru tumbuh sebagai pesaing antara satu dengan yang lain.

"Bank Jateng saat ini asetnya Rp 53 triliun. BPR se Jateng Rp 27 triliun lebih. Mengapa kita tidak bersinergi dan jadi kekuatan lembaga keuangan di Jateng. Daripada ketika kita di lapangan saling "lirik-lirikan". Maka kami yakin, mulai hari ini tidak ada lagi nanti di lapangan, antara petugas Bank Jateng dan BPR/ BKK masih saling bersaing. Tetapi akan berubah menjadi mitra kerja yang baik. Di sana ada BPR/ BKK, di situ pula ada Bank Jateng," pintanya dalam acara Sinergi Bank Jateng dengan BPR/ BKK se-Jawa Tengah, Kamis (22/12) di Hotel Puri Asri.

Ditambahkan, ada beberapa desain model bisnis yang bisa dikerjasamakan antara Bank Jateng dan PD BPR/ BKK. Salah satunya penempatan dana antarbank pasiva dengan aktiva. Diakui Radjim, selama ini PD BPR/ BKK enggan menempatkan dananya di Bank Jateng karena suku bunga yang diberikan kurang kompetitif. Sehingga, pihaknya kini berupaya agar bisa memberikan suku bunga yang minimal sama dengan bank lain.

Model bisnis lain yang bisa dirancang adalah menciptakan kerja sama pelayanan untuk menjaga likuiditas BKK, meningkatkan fungsi Bank Jateng sebagai bank pengayom bagi BKK, dan menyediakan dana bergulir untuk memenuhi kebutuhan PD BPR/ BKK. Seperti, fasilitas pinjaman.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP yang membuka acara sependapat dengan Radjim. Dia menuturkan, sinergi menjadi sebuah keharusan untuk menuju kekuatan besar antarlembaga perbankan, lembaga keuangan nonbank, bahkan dengan bukan lembaga keuangan.

"PT Bank Jateng punya sumber dana relatif besar. Infrastruktur pelayanan dan dukungan teknologi juga memadai. Maka saya berharap supaya terjalin sinergi dengan BPR yang punya keunggulan dekat dengan masyarakat, paham karakter masyarakat, dan sebaran jaringan kantor untuk dapat melayani UMKM sampai ke daerah terpencil," urainya.

Jika BPR ingin bersaing dengan Bank Jateng, imbuhnya, tentu berat. Sebab, suku bunga Bank Jateng untuk Mitra 25 hanya tujuh persen. Sementara BPR suku bunganya 11 persen. Maka, Bank Jateng sebagai apex bank (bank pengayom) harus bisa menjadi pelindung dan pembimbing operasional BPR.

"Nek Bank Jateng tidak bisa ngayomi dan melindungi njenengan lapor. Nek bersaing dalam pinjaman, pasti kalah. Wong Bank Jateng bunganya bisa di bawah 11 persen. Mesti kalah. Ini nanti sinergitasnya di mana? Pangsa pasar yang relatif bersinggungan perlu dijaga, agar tidak terjadi praktik kanibal," kata mantan Kepala Dinas Kehutanan itu.

Simbiosis mutualisme antara Bank Jateng dan PD BPR/ BKK diharapkan Sri Puryono bisa berdampak positif terhadap upaya dan pengembangan UMKM. Sehingga akan mendorong kemandirian UMKM, memperluas lapangan kerja, serta meratakan distribusi pendapatan yang muaranya Jateng sejahtera dan berdikari. (Biro Humas Setda Prov Jateng)