Ajaran Islam Hargai Kemajemukan

Min, 08/01/2017 - 21:44 -- a60es

Pekalongan - Kemajemukan yang ada di Indonesia merupakan anugerah dan harus dijaga oleh semua unsur masyarakat. Jangan justru menjadikan beragam perbedaan sebagai pemicu perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal itu diungkapkan Presiden RI Joko Widodo saat memberi sambutan pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 Hijriah bersama Habib Muhammad Lutfi Bin Yahya di Gedung Kanzus Salawat, Kota Pekalongan, Minggu (8/1). Turut mendampingi Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja tersebut, Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo SH MIP, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala, Sekretaris Militer Presiden Marsda TNI Trisno Hendradi, Komandan Paspampres Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono, Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana dan Kepala Biro Protokol Sekretariat Presiden Ari Setiawan.

Menurut presiden, NKRI memerlukan persatuan dan kesatuan dari semua unsur dan komponen masyarakat seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad. Dalam hal kekuatan politik, Rasulullah pernah membentuk kontrak politik dengan semua komponen masyarakat melalui Piagam Madinah yang bertujuan untuk mempersatukan umat.

"Ini jelas sekali bahwa umat Islam maupun ajaran Islam itu menghargai kemajemukan suku dan golongan yang beraneka macam," katanya.

Menghadiri peringatan Maulid Nabi yang merupakan rangkaian kunjungan kerja di Kota dan Kabupaten Pekalongan itu presiden menyebutkan, Indonesia memiliki lebih dari 700 suku, termasuk Suku Batak, Jawa, Bugis, Minang, Dayak, dan lainnya, terdapat 1.100 bahasa daerah, 34 provinsi, serta 516 kabupaten dan kota yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

"Kita dianugerahi keberagaman dan itu patut kita syukuri. Ini kekuatan dan potensi membangun persatuan bangsa," imbuhnya.

Selain meminta rakyat senantiasa menjaga kemajemukan dan kerukunan sebagai kekayaan Bangsa Indonesia, di hadapan ribuan santri dan masyarakat yang memadati Kanzus Salawat, mantan Wali Kota Surakarta itu mengimbau masyarakat mewaspadai bahaya media sosial. Terutama yang berisi bermacam informasi tidak jelas sumbernya dan berpotensi memecah belah persatuan.

"Saya juga ingatkan kepada semua tentang nilai-nilai kesantunan dalam menggunakan media sosial. Sekarang ini ada tantangan yang tidak kita sadari melalui media sosial. Informasi apa pun dan dari mana pun akan mudah didapat, apalagi sekarang pada pegang HP, smartphone, atau gadget," bebernya.

Senada diutarakan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP. Dalam sambutannya Ganjar menyampaikan Indonesia harus bersatu supaya menjadi negara kuat dan besar, pemerintahan bersih, serta dapat melayani masyarakat dengan baik.

Dalam kesempatan itu mantan anggota DPR RI tersebut mengingatkan kepala daerah untuk menjaga integritas, karena siapa pun akan marah ketika pemimpin mengingkari sumpahnya dengan mengambil uang rakyat.

"Di Jateng ada dua OTT (operasi tangkap tangan) di dua kabupaten. Ini menunjukkan bahwa sistem pemerintahan di Jateng perlu disuntik lagi. Moral, mental, dan integritasnya ditertibkan lagi. Semua akan marah ketika uang rakyat diambil," ungkap Ganjar.

Sementara itu, Habib Lutfi bin Yahya menyampaikan, rakyat Indonesia harus bersyukur atas perbedaan suku, ras, dan agama, karena kemajemukan itu adalah anugerah dari Tuhan. Pemerintah tidak bisa dipisahkan lagi dengan ulama, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, dan pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan RI.

"Ini lambang kesatuan yang tidak dapat dipisah pisahkan.NKRI harga mati dan itu bukan basa basi. Inilah kekuatan Indonesia. Oleh karena itu, kami minta rakyat bisa menjaga kesatuan dan persatuan. Dukung pemerintah agar Indonesia maju dan makmur, jangan ribut saja," tandas Habib Lutfi. (Humas Jateng)