Seni Tradisional pun Bisa untuk Sosialisasikan Program Pemerintah

Rab, 25/01/2017 - 16:03 -- ully

Semarang - Menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui seminar atau workshop, itu sudah biasa dilakukan. Namun, belum tentu semua pesertanya memahami pesan yang disampaikan. Terlebih, jika bahasa yang digunakan tidak familier.

Namun, bagaimana jika menyosialisasikan program atau kegiatan melalui kesenian tradisional? Cara tersebut menjadi pilihan jitu. Terlebih jika sasarannya adalah masyarakat awam. Sebab, tidak hanya menggunakan bahasa setempat, penyampaian informasinya pun dikemas lebih menarik, sehingga lebih mudah difahami.

Hal itu pula yang membuat Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah terus membidik kelompok seniman tradisional agar bisa berperan aktif menyosialisasikan informasi, khususnya program-program pembangunan, melalui Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra). Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Provinsi Jawa Tengah Dra Evi Sulistyorini MM menekankan, penyampaian informasi akan lebih mudah diserap jika caranya tepat.

“Keberadaan FK Metra ini akan sangat membantu masyarakat. Mereka menggunakan bahasa masyarakat setempat, dengan kemasan kesenian lokal yang tentunya lebih disukai. Dengan begitu, pesan yang disampaikan akan lebih mengena dan dimengerti. Untuk itu, kami mendorong pemerintah kabupaten/ kota bisa segera membentuk FK Metra, karena sampai sekarang FK Metra yang terbentuk baru di 20 kabupaten/ kota,” bebernya, saat Rapat Koordinasi FK Metra Kabupaten/ Kota se-Jawa Tengah, di Aula Diskominfo Provinsi Jawa Tengah, Rabu (25/1).

Ditambahkan, keberadaan lembaga komunikasi sosial sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 17 Tahun 2009 tentang Diseminasi Informasi Nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota, Peraturan Menteri kominfo Nomor 08 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial, Peraturan Kominfo Nomor 22 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kominfo di Kabupaten/ Kota. Selain itu, ada pula Peraturan Gubernur Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan, Pengembangan dan Pemberdayaan lembaga Komuniasi Sosial di Provinsi Jawa Tengah, di mana FK Metra termasuk di dalamnya.

Ketua FK Metra Provinsi Jawa Tengah Drs St Sukirno MS mengakui, belum terbentuknya FK Metra di seluruh kabupaten/ kota karena kurangnya pemahaman mengenai lembaga tersebut. Kesenian tradisional terlanjur identik dengan urusan kebudayaan dan pariwisata, bukan kewenangan kominfo. Padahal, yang dimaksud FK Metra itu tidak sekadar pada tradisinya, melainkan media penyampaian informasinya.
Pemerintah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) memiliki program pembangunan yang kemudian disosialisasikan kepada masyarakat. Agar pesan yang disampaikan lebih mengena, FK Metra bisa menjadi pilihan, sekaligus nguri-nguri budaya dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

“Sehingga kalau kami menggambarkan, sebetulnya pemerintah punya keuntungan, masyarakatnya punya kemanfaatan, senimannya bisa diajak kerja sama. Kalau saya menggambarkan itu sebagai trisula,” ungkapnya.

Dalam penyampaiannya, imbuh Sukirno, seringkali kemasan kesenian “menabrak” pakem yang ada, namun tetap tidak menghilangkan esensinya. Misalnya, di sela-sela penampilan ketoprak dengan cerita tertentu, disisipkan materi mengenai kartu tani, keluarga berencana (KB), penanganan demam berdarah dengue (DBD) dan sebagainya. Pembicaranya pun tidak harus para pemain, tapi bisa dari ahlinya. Untuk pembiayaannya, bisa menggunakan anggaran sosialisasi dari OPD atau pihak lain yang berkepentingan dalam sosialisasi program atau kegiatan.

Dia menunjuk contoh kerja sama yang telah dijalin dengan Bakorluh Provinsi Jawa Tengah dalam menyosialisasikan kartu tani di Kabupaten Purbalingga, Sragen, dan Kota Surakarta. Ada pula kerja sama dengan Badan Kesbangpolinmas untuk melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan bagi pelaku kesenian di Pekalongan, Kendal, dan Demak.
Tentunya, untuk menyosialisasikan itu semua tidak mudah. Para pemain dituntut memahami mengenai pesan yang disampaikan, agar selanjutnya bisa menampilkan melalui tarian, diiringi gamelan atau musik, dengan sisipan humor. Biaya yang dikenakan juga terhitung murah.

“Ketua FK Metra diharapkan punya kelincahan berhubungan dengan pimpinan SKPD (OPD) sehingga membuka peluang kerjasama dengan SKPD. Ketua FK Metra menjadi penghubung FK Metra dengan SKPD yang tidak gampang menjelaskan kepada mereka,” tegasnya.

Sekretaris FK Metra Provinsi Jawa Tengah Daniel Hakiki menambahkan, hingga kini baru 20 kabupaten/ kota membentuk FK Metra. Yakni, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Magelang, Kabupaten Kendal, Kudus, Jepara, Grobogan, Blora, Batang, Pekalongan, Tegal, Brebes, Temanggung, Magelang, Purworejo, Purbalingga, Banyumas, Wonogiri, Sukoharjo, dan Sragen. Kegiatannya pun sangat banyak. Bahkan, awal 2009, Jawa Tengah menjadi permodelan FK Metra. Dan Kota Surakarta pernah menjadi juara nasional FK Metra pada 2011.

Diakui, di tengah perkembangan informasi yang semakin pesat, FK Metra dituntut siap dan mampu berkompetisi dengan media informasi lain, meski sebenarnya mereka sudah memiliki nilai plus tersendiri. Media tradisional lebih efektif karena dalam dialognya menggunakan bahasa setempat dan lebih familier. Tidak ada media lain yang mampu hadirkan secara langsung dan detail mengenai nlai-nilai budaya di masyarakat. Nilai budaya yang tidak dimengerti masyarakat yang sekarang ini menjadikan banyak penyelewengan. Media tradisional dijadikan media yang menginformasikan berbagai program di masyarakat. Keberadaan FK Metra, menurutnya, tidak hanya untuk menyampaikan program pemerintah. Lebih dari itu, masyarakat semakin mengenal dan mencintai kesenian tradisionalnya, yang pada akhirnya kesenian tersebut hidup kembali.

“Kalau program-program pembangunan difahami seluruh pelaku kesenian tradisional yang mempunyai kemungkinan bertatap muka dengan masyarakat, maka informasi akan terus menerus disampaikan. Tidak saja saat mereka (FK Metra) mendapat peluang untuk main bersama, misalnya, KB, antinarkoba, tapi juga saat penampilan lainnya. Jadi bisa dibayangkan betapa pentingnya konteks ini,” tandas Daniel. (Diskominfo Jateng)