Kota Pekalongan

Kota Pekalongan dengan luas wilayah ± 45,25 km², terletak di daerah pantai utara Pulau Jawa dengan ketinggian rata-rata 1 m diatas permukaan laut pada posisi  6º  50´  42´´–6º 55´ 44´´ Litang Selatan dan 109º 37´ 55´´-109º 42´ 19´´-Bujur Timur.  Kota  Pekalongan mempunyai sejarah batik yang cukup  panjang  sehingga lebih dikenal sebagai kota batik dan sebagian besar penduduknya menggantungkan mata pencarian hidupnya sebagai pengrajin batik. Disamping penghasil produk batik Kota Pekalongan juga terkenal dengan produk tenunnya karena dibuat dengan alat tenun bukan mesin ATBM. Daya tarik wisata Kota Pekalongan antara lain, Pantai Pasir Kencana, Pantai Slamaran Indah, Pemandian Air Panas Tirto Bumi, Museum Batik, Pemandian Tirtosari, Pemandian Air Panas Tirto Bumi.
 
Pantai Pasir Kencana
Tempat santai menyajikan keindahan dan kesejukan khas pantai dengan hamparan pasir pantai. Rekreasi yang ditawarkan ditempat ini selain pemandangan, yaitu bersampan, perahu siar dan memancing. Terletak 4,5 km ke arah utara dari kota berdekatan dengan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan Muara Pelabuhan Pekalongan. Tersedia fasilitas : Mainan anak-anak, panggung terbuka, areal parkir, Musholla, MCK dan mandi bilas. Dapat menyaksikan timbul dan terbenamnya matahari. Luas 3,5 Ha tidak jauh dari Pantai Pasir Kencana, kira – kira sejauh  500 m kearah barat, wisatawan dapat menikmati hidangan  ikan bakar di Rumah Makan Pantai Sari atau Rumah Makan Wiroto, sambil menikmati suasana gelombang air laut dan semilirnya angin pantai. Masih ada potensi Pantai Pasir Kencana kearah barat, yaitu terdapat Krematorium,  Pura dan tambak.
 
Museum Batik
Museum ini terdapat koleksi beraneka macam motif  batik khas Pekalongan maupun daerah sekitarnya. Terletak di Jl. Majapahit No. 7.  Di museum ini anda dapat melihat berbagai jenis batik dari waktu ke waktu. Kita dapat mengamati perkembangan batik mulai jaman Belanda, pengaruh Jepang pada saat perang dunia kedua dengan motif Jawa Hokokai, ada pula batik dari luar Jawa khususnya Sumatera yang bayak dipengaruhi oleh budaya islam yang tampak dari motif yang menyerupai kaligrafi tulisan Arab. Koleksi museum ini cukup menarik, kita dapat melihat batik antik yang usianya mencapai 100 tahun lebih. Ada pula kebaya encim yang biasa dipakai oleh wanita tionghoa di Indonesia. Masih banyak koleksi menarik yang lain dapat anda lihat di museum ini
Gedung Museum Batik Indonesia ini, dibangun dengan memanfaatkan gedung bekas Balai Kota Pekalongan. Gedung itu dirombak menjadi Museum Batik Indonesia, karena bangunannya termasuk kuno, yakni dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Di dalamnya, terdapat beberapa kamar yang luas dengan pintu dan jendela besar, sehingga terasa sekali nuansa sejarah yang tinggi. Lokasinya sangat mudah dijangkau dengan bermacam kendaraan atau angkutan kota. Terletak di daerah bundaran Jatayu dekat jalan Diponegoro Kota Pekalongan. Batik Pekalongan  banyak dipengaruhi gabungan atau pembauran unsur lokal, arab, cina, dan belanda. Sungguh sebuah warisan budaya yang tak ternilai harganya.
 
Pantai Slamaran Indah
Terletak disebelah timur Pantai Pasir Kencana dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP); dapat dicapai lewat muara pelabuhan dengan perahu pesiar dan lewat darat 5 Km dari kota/terminal bus.
Fasilitas yang tersedia : Tempat parkir cukup, masih berupa hutan pantai yang alami, bisa menikmati terbit dan terbenamnya matahari dengan suasana yang indah, dengan luas 7 Ha. Cocok bagi anda yang mempunyai jiwa natural. Obyek wisata SLAMARAN INDAH merupakan Daerah pesisir yang bisa memberikan rasa sejuk dan nyaman. Dengan legenda DEWI LANJAR sebagai RATU PANTAI UTARA Pekalongan, konon memiliki paras yang cantik jelita tiada bandingan
 
Pemandian Air Panas Tirto Bumi.
Merupakan tempat pemandian dengan air panas yang alami, mengandung belerang dan bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit maupun reumatik. Terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 135 Pekalongan.
 
Kolam Renang Tirtasari
Merupakan kolam renang umum yang terletak di jl. Perintis Kemerdekaan. Fasilitas yang tersedia :  Tempat parkir, MCK,  warung makan.
 
Keunikan Seni Budaya
Khoul adalah tradisi berupa upacara keagamaan untuk memperingati / mengenang jasa-jasa tokoh agama / habib yang dilakukan oleh penerus dan atau pengikut tokoh tersebut. Tradisi ini dilakukan setahun sekali.
 
Ada banyak khoul yang diselenggarakan dan menarik banyak peziarah dari berbagai kota di sekitar Pekalongan. Yang paling terkenal adalah Khoul untuk mengenang jasa- jasa Habib Akhmad bin Abdullah bin Tholib Al Athas, semasa hidupnya merintis penyebaran agama islam di Jawa, yang diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya’ban (Ruwah) setiap tahun
 
SYAWALAN
Syawalan merupakan tradisi khas masyarakat Pekalongan, yakni seminggu setelah hari raya Iedul Fitri (Lebaran). Biasanya setelah lebaran, masyarakat Pekalongan melaksanakan puasa sunah 6 hari. Oleh karena iitu, masyarakat Pekalongan baru benar-benar merayakan lebaran setelah seminggu Lebaran, dengan berbagai macam cara. Ada yang berwisata, berkunjung ke sanak saudara yang jauh, dan sebagainya.
 
Ada satu tradisi syawalan yang terkenal sampai ke luar daerah, bahkan mungkin sampai ke seluruh Indonesia karena sudah sering diliput oleh televisi nasional, yakni pemotongan kue lopis raksasa di Krapyak (disebut juga lopisan atau krapyakan).
 
Krapyakan / lopisan adalah tradisi masyarakat yang berada di Pekalongan dan sekitarnya untuk menyaksikan pemotongan LOPIS RAKSASA yang mempunyai ukuran diameter 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm, diselenggarakan 1 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. oleh Walikota / Pejabat Muspida.
 
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.
 
Tradisi Syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan ini sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
 
SINTREN
Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).
 
Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak). Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.
 
Kuliner :
  • Megono :
Masakan khas Pekalongan Megono berbahan dasar nangka muda dan kelapa. Jika nangka muda sulit didapat, maka tanpa mengurangi nikmatnya rasa megono, rebung atau tunas bambu dijadikan penggantinya.
Pada masa lalu, megono umumnya hanya bisa dijumpai di warung-warung makan kelas menengah ke bawah sepanjang pantura dari Pekalongan hingga Batang. Nangka muda yang telah dicacah hingga kecil-kecil direbus. Setelah matang dicampur dengan bumbu urap yang terdiri dari parutan kelapa dan bumbu dapur yang dihaluskan seperti bawang putih, bawang merah, cabe, jeruk purut, kencur dan garam. Menghidangkannyapun cukup sederhana, yaitu nasi putih langsung diberi taburan megono. Meski tergolong sederhana dan lazimnya jadi lauk masyarakat akar rumput di pekalongan, megono layak anda coba. Selamat berkelana mencari megono di pantura!.
 
  • Soto Pekalongan :
Soto Pekalongan memiliki ciri khas, yaitu menggunakan tauco sebagai bumbunya. Citarasa khas tauco memberi rasa kuah soto lebih harum dan lezat. Namun bagi Anda yang kurang menyukai aroma tauco, soto ini tetap harum, gurih dan lezat walaupun bumbu ini dihilangkan.
 
Cinderamata :
Batik, batik yang bermotif khas Pekalongan Batik Pekalongan terkenal di seluruh dunia, diantaranya motif  jlamprang, Cuwiri, Garuda Madep, Galaran. Batik Pekalongan mempunyai ciri tersendiri didalam segi motif ataupun warnanya. Warna atau motif batik Pekalongan banyak berpengaruh gaya dan motif Cina.